Situs Berita Kesehatan Terupdate

Infinity Wellness NM

Bulan: Agustus 2025

Cara Menangani Demam Anak

Cara Menangani Demam Anak Tanpa Panik

Demam pada anak memang sering membuat orang tua cemas. Rasanya ingin segera mencari dokter, padahal tidak semua kondisi harus ditangani dengan obat-obatan atau tindakan medis cepat. Sebenarnya, demam adalah reaksi alami tubuh ketika sistem imun bekerja melawan infeksi. Karena itu, memahami cara menangani demam anak dengan tenang sangat penting agar kita bisa memberikan pertolongan yang tepat.

Kenali Penyebab Demam Anak

Sebelum buru-buru panik, sebaiknya kita mengenali dulu apa yang menyebabkan demam. Beberapa penyebab umum antara lain:

  • Infeksi virus seperti flu atau batuk pilek.

  • Infeksi bakteri yang bisa menimbulkan gejala tambahan.

  • Tumbuh gigi pada bayi dan balita.

  • Keletihan atau kurang istirahat.

  • Reaksi pasca imunisasi.

Dengan mengetahui penyebabnya, kita jadi lebih tenang dalam mengambil langkah. Inilah awal yang baik dalam cara menangani demam anak tanpa kepanikan.

Pantau Suhu Tubuh Anak dengan Benar

Salah satu langkah sederhana adalah selalu sedia termometer di rumah. Suhu normal anak berada di kisaran 36,5–37,5°C. Jika angka di atas 38°C, barulah dikatakan demam. Jangan hanya mengandalkan rabaan tangan, karena sering kali tidak akurat. Dengan memantau suhu tubuh, kita bisa tahu kapan perlu tindakan lebih lanjut.

Berikan Cukup Cairan

Saat anak demam, tubuhnya cenderung kehilangan cairan lebih banyak melalui keringat. Karena itu, pastikan ia minum cukup air putih, susu, atau kuah sup hangat. Cairan tidak hanya membantu menurunkan suhu tubuh, tetapi juga mencegah dehidrasi. Bahkan, ini menjadi salah satu tips alami cara menangani demam anak yang aman dan mudah dilakukan di rumah.

Istirahat yang Cukup

Tubuh anak butuh energi untuk melawan infeksi, jadi istirahat adalah kunci. Hindari aktivitas terlalu berat, meskipun anak terlihat masih aktif. Biarkan ia tidur lebih lama atau sekadar berbaring santai. Dengan begitu, sistem kekebalan tubuh bisa bekerja lebih maksimal dalam proses penyembuhan.

Kompres dengan Air Hangat

Banyak orang tua masih salah kaprah dengan mengompres anak menggunakan air dingin atau es batu. Padahal, cara tersebut bisa membuat tubuh menggigil dan memperburuk kondisi. Kompres air hangat pada lipatan ketiak atau dahi jauh lebih aman untuk membantu menurunkan suhu. Inilah salah satu cara alami menangani demam anak tanpa obat-obatan berlebihan.

Pilih Pakaian yang Nyaman

Jangan pakaikan anak dengan baju tebal atau selimut berlapis-lapis saat demam. Justru hal ini bisa membuat panas tubuh terperangkap dan memperburuk keadaan. Gunakan pakaian longgar, berbahan katun, dan biarkan sirkulasi udara lancar. Meski terlihat sepele, ini bagian penting dalam cara menangani demam anak di rumah.

Baca Juga: 5 Penyebab Kebotakan Dini dan Cara Mengatasinya

Perhatikan Pola Makan

Walau nafsu makan menurun, anak tetap perlu asupan bergizi. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti bubur, sup ayam, buah segar, atau smoothie. Nutrisi dari makanan bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga proses pemulihan lebih cepat.

Jangan Terburu-Buru Memberi Obat

Kadang orang tua langsung memberikan obat penurun panas ketika suhu naik sedikit. Padahal, tidak semua demam butuh obat. Jika anak masih terlihat aktif, mau minum, dan tidak rewel berlebihan, biasanya cukup ditangani dengan perawatan sederhana di rumah. Obat hanya diperlukan bila suhu sudah mencapai 38,5°C ke atas atau sesuai anjuran dokter.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Meski sebagian besar demam bisa ditangani di rumah, ada kondisi yang tidak boleh diabaikan. Segera bawa anak ke dokter bila:

  • Demam tidak turun lebih dari 3 hari.

  • Suhu tubuh sangat tinggi hingga 40°C.

  • Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum sama sekali.

  • Disertai gejala lain seperti kejang, sesak napas, atau ruam menyebar di kulit.

Langkah ini penting agar orang tua tahu batas kemampuan perawatan di rumah dan kapan butuh bantuan medis.

Pada akhirnya, cara menangani demam anak yang paling penting adalah tetap tenang. Panik hanya akan membuat keputusan jadi terburu-buru. Dengan memahami langkah sederhana seperti memantau suhu, menjaga hidrasi, memberikan istirahat, hingga memperhatikan tanda bahaya, orang tua bisa lebih percaya diri menghadapi situasi ini.

Penyebab Kebotakan Dini

5 Penyebab Kebotakan Dini dan Cara Mengatasinya

Kebotakan sering dianggap sebagai masalah yang muncul ketika usia sudah lanjut, padahal kenyataannya banyak orang mengalaminya di usia muda. Penyebab kebotakan dini bisa datang dari berbagai faktor, mulai dari gaya hidup, pola makan, hingga kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, penting banget untuk tahu apa saja penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya biar rambut tetap sehat serta tidak mudah rontok.

1. Faktor Genetik

Salah satu penyebab kebotakan dini yang paling sering terjadi adalah faktor keturunan. Kalau orang tua atau keluarga dekat mengalami kebotakan, kemungkinan besar kondisi ini bisa menurun. Rambut jadi lebih cepat tipis meskipun usia masih relatif muda.

Meskipun tidak bisa di cegah sepenuhnya, ada beberapa cara yang bisa membantu memperlambat prosesnya. Misalnya dengan menjaga kesehatan kulit kepala, rutin keramas menggunakan sampo yang tepat, serta mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung protein dan vitamin B kompleks.

2. Stres Berlebihan

Stres bukan hanya mengganggu pikiran, tapi juga bisa memicu kerontokan rambut. Saat tubuh mengalami tekanan, produksi hormon kortisol meningkat. Hal ini dapat mempercepat siklus kerontokan rambut sehingga menjadi salah satu penyebab kebotakan dini.

Untuk mengatasinya, coba lakukan aktivitas relaksasi seperti yoga, meditasi, atau sekadar jalan santai di pagi hari. Mengelola stres dengan baik tidak hanya menjaga kesehatan rambut, tapi juga bikin tubuh lebih seimbang dan segar.

3. Pola Makan Tidak Sehat

Kesehatan rambut sangat di pengaruhi oleh apa yang kita makan. Diet ekstrem, kekurangan protein, serta minim vitamin dan mineral bisa membuat rambut rapuh. Pola makan yang salah ini jelas termasuk dalam penyebab kebotakan dini yang sering tidak di sadari.

Cara mengatasinya tentu dengan memperbaiki pola makan. Konsumsi makanan kaya zat besi, zinc, vitamin D, serta omega-3 yang terbukti mendukung pertumbuhan rambut. Sayuran hijau, telur, kacang-kacangan, dan ikan bisa jadi pilihan terbaik untuk memperkuat akar rambut.

Baca Juga: Tanda Tubuh Kamu Perlu Detox dan Cara Mengatasinya

4. Penggunaan Produk Rambut yang Salah

Banyak orang tergiur dengan iklan produk rambut tanpa memperhatikan kandungan di dalamnya. Penggunaan produk yang mengandung bahan kimia keras justru bisa merusak kulit kepala dan menjadi penyebab kebotakan dini.

Solusi terbaik adalah memilih produk yang sesuai dengan jenis rambut dan sebisa mungkin berbahan alami. Selain itu, hindari terlalu sering styling dengan hair dryer, catok, atau pewarna rambut karena panas dan bahan kimia dapat mempercepat kerusakan.

5. Gangguan Hormon dan Kesehatan

Ketidakseimbangan hormon, misalnya akibat sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita atau penurunan hormon testosteron pada pria, dapat memicu kerontokan. Begitu juga dengan kondisi medis seperti anemia atau gangguan tiroid. Semua ini bisa menjadi penyebab kebotakan dini yang serius.

Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis agar penyebabnya jelas. Dokter mungkin akan memberikan terapi atau suplemen tertentu yang membantu menormalkan kondisi tubuh. Dengan begitu, rambut pun bisa tumbuh lebih sehat dan tidak cepat menipis.

Cara Mengatasi Kebotakan Dini Secara Alami

Selain menghindari penyebab-penyebab di atas, ada beberapa langkah alami yang bisa dilakukan agar rambut tetap terjaga kesehatannya:

  • Pijat kulit kepala secara rutin dengan minyak alami seperti minyak kelapa atau minyak zaitun untuk melancarkan peredaran darah.

  • Hindari merokok dan alkohol karena keduanya dapat menghambat sirkulasi darah ke folikel rambut.

  • Cukup tidur minimal 7-8 jam per hari, karena pola tidur yang buruk bisa memperparah kerontokan.

  • Gunakan masker rambut alami dari lidah buaya, jahe, atau bawang merah yang dipercaya mampu menutrisi rambut.

Dengan langkah-langkah sederhana ini, kebotakan bisa diperlambat bahkan dicegah sebelum semakin parah.

Tanda Tubuh Kamu Perlu Detox dan Cara Mengatasinya

Pernah nggak sih kamu merasa lelah terus padahal tidur cukup? Atau kulit tiba-tiba kusam dan jerawatan padahal kamu udah pakai skincare lengkap? Bisa jadi itu tanda tubuh kamu lagi “teriak minta tolong”. Detox alias detoksifikasi adalah proses alami tubuh buat membuang racun yang numpuk, entah dari makanan, udara, atau gaya hidup yang kurang sehat. Yuk kita bahas 6 Tanda tubuh kamu perlu detox dan cara mengatasinya.

Meskipun tubuh punya sistem detox sendiri lewat hati, ginjal, dan kulit, kadang-kadang sistem ini butuh bantuan ekstra, apalagi kalau gaya hidup kamu sehari-hari jauh dari kata sehat.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehat yang Bisa Membantu Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

1. Sering Merasa Lelah Padahal Nggak Banyak Aktivitas

Kalau kamu sering ngeluh capek tanpa sebab yang jelas, ini bisa jadi alarm dari tubuh. Energi yang ngedrop bisa disebabkan oleh tumpukan toksin yang mengganggu kerja organ vital kayak hati dan ginjal. Efeknya, metabolisme melambat dan tubuh jadi cepat lelah.

Cara Mengatasi:
Coba mulai minum lebih banyak air putih dan kurangi konsumsi gula serta kafein. Tambahkan juga makanan tinggi antioksidan seperti buah berry dan sayuran hijau.

2. Kulit Kusam, Berjerawat, dan Gatal-Gatal

Kulit adalah cerminan dari dalam tubuh. Kalau kamu mendadak breakout atau kulit terasa gatal tanpa alergi yang jelas, bisa jadi karena racun yang nyangkut di dalam tubuh. Hati yang kewalahan biasanya “lempar tugas” ke kulit buat bantu mengeluarkan toksin.

Cara Mengatasi:
Rutin minum infused water dengan lemon atau mentimun. Coba juga mandi dengan garam Epsom yang bisa bantu proses detox lewat pori-pori kulit.

3. Sembelit atau Masalah Pencernaan

Pencernaan yang bermasalah seperti sembelit, kembung, atau sakit perut setelah makan juga jadi tanda penting. Sistem pencernaan kamu lagi kesulitan ngeluarin sisa-sisa makanan dan racun.

Cara Mengatasi:
Konsumsi lebih banyak serat dari buah dan sayur, serta minum air hangat setiap pagi. Bisa juga tambahkan probiotik alami seperti yogurt atau tempe.

4. Bau Badan dan Nafas Tak Sedap

Nafas kamu nggak sedap meskipun rajin sikat gigi? Atau kamu merasa badan berbau padahal nggak keringetan berlebih? Ini bisa disebabkan oleh racun dalam tubuh yang belum terbuang sempurna.

Cara Mengatasi:
Perbanyak konsumsi sayuran hijau seperti bayam, kale, atau parsley. Kandungan klorofil di dalamnya bisa bantu netralisir bau dari dalam tubuh.

5. Mood Swing dan Sulit Fokus

Racun dalam tubuh ternyata bisa memengaruhi keseimbangan hormon, yang akhirnya bikin kamu gampang marah, baper, atau bahkan susah konsentrasi. Kalau kamu ngerasa emosi naik turun dan gampang terdistraksi, coba cek gaya hidup kamu.

Cara Mengatasi:
Luangkan waktu untuk meditasi ringan dan cukup tidur setiap malam. Hindari junk food yang bisa memperparah suasana hati.

6. Sering Ngidam Makanan Nggak Sehat

Kalau kamu susah lepas dari makanan manis, gorengan, atau makanan instan, itu bisa jadi pertanda tubuh kamu lagi ‘kecanduan racun’. Racun ini bisa ngacauin sinyal otak dan bikin kamu craving terus-menerus.

Cara Mengatasi:
Mulai ganti cemilan dengan yang lebih sehat seperti kacang almond, buah potong, atau smoothie tanpa gula tambahan. Jangan lupa olahraga ringan buat bantu tubuh ‘reset’.

Bonus: Cara Mudah Detox Harian Tanpa Ribet

Kamu nggak harus minum jus hijau 7 hari berturut-turut buat detox, kok. Mulai dari hal simpel aja:

  • Minum air putih minimal 2 liter sehari

  • Tidur cukup dan hindari begadang

  • Kurangi makanan olahan dan cepat saji

  • Olahraga ringan 20–30 menit per hari

  • Makan buah dan sayur segar setiap hari

Tubuh kamu butuh perhatian, jadi dengerin sinyal yang dikasih ya. Dengan perubahan kecil yang konsisten, kamu bisa bantu tubuh bekerja lebih optimal dan merasa lebih segar setiap hari.

7 Kebiasaan Sehat yang Bisa Membantu Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Penyakit jantung tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Meskipun faktor genetik bisa memengaruhi, banyak kebiasaan yang bisa kita ubah untuk menurunkan risiko ini. Dengan pola hidup yang sehat, kita tidak hanya bisa mengurangi potensi penyakit jantung, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Jadi, apa saja kebiasaan sehat yang bisa membantu kita menjaga kesehatan jantung?Berikut ini 7 Kebiasaan Sehat yang Bisa Membantu Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Baca juga: Reset Metabolik Strategi Ilmiah untuk Membalikkan Diet yang Gagal

1. Aktivitas Fisik yang Teratur

Berolahraga secara teratur bukan hanya membuat tubuh lebih bugar, tetapi juga sangat efektif dalam menurunkan risiko penyakit jantung. Aktivitas fisik membantu meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan kadar kolesterol jahat, dan mengatur tekanan darah. Cukup 30 menit latihan moderat seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang setidaknya lima kali seminggu sudah cukup untuk memberi manfaat besar bagi kesehatan jantung.

2. Mengatur Pola Makan yang Sehat

Makanan yang kita konsumsi memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jantung. Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan trans, seperti makanan olahan, fast food, dan gorengan, bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Sebaliknya, meningkatkan asupan makanan kaya serat, seperti buah, sayuran, biji-bijian, dan ikan yang mengandung omega-3, dapat membantu melindungi jantung.

Cobalah untuk mengurangi garam, karena konsumsi garam berlebihan bisa meningkatkan tekanan darah. Pilih sumber protein sehat seperti kacang-kacangan, tahu, tempe, atau ikan dibandingkan dengan daging merah.

3. Menjaga Berat Badan Ideal

Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Ini karena lemak berlebih dalam tubuh bisa meningkatkan kolesterol dan tekanan darah, serta menyebabkan peradangan. Dengan menjaga berat badan tetap ideal, Anda dapat mengurangi beban kerja jantung dan meningkatkan kesehatan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Cara terbaik untuk menurunkan berat badan adalah dengan kombinasi diet sehat dan rutin berolahraga. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter jika Anda ingin memulai program penurunan berat badan.

4. Mengelola Stres dengan Baik

Stres bisa mempengaruhi tubuh dengan cara yang tidak disadari, salah satunya meningkatkan tekanan darah dan kadar hormon stres, seperti kortisol, yang berkontribusi pada risiko penyakit jantung. Menemukan cara yang efektif untuk mengelola stres sangat penting. Aktivitas seperti meditasi, yoga, atau bahkan sekadar berjalan-jalan santai di alam bisa membantu meredakan ketegangan mental.

Selain itu, tidur yang cukup juga berperan besar dalam mengelola stres. Kurang tidur dapat mempengaruhi keseimbangan hormon dan memperburuk masalah kesehatan, termasuk kesehatan jantung.

5. Tidak Merokok

Merokok adalah salah satu kebiasaan paling merusak bagi kesehatan jantung. Zat-zat berbahaya dalam rokok dapat merusak dinding pembuluh darah, meningkatkan kadar kolesterol jahat, serta meningkatkan pembekuan darah, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan risiko serangan jantung. Jika Anda merokok, berhenti sekarang adalah langkah terbaik yang bisa Anda ambil untuk kesehatan jantung Anda.

Bagi yang ingin berhenti merokok, ada banyak program dan dukungan yang bisa membantu. Cobalah untuk mencari komunitas atau aplikasi yang dapat memberi motivasi dan bimbingan selama proses berhenti merokok.

6. Membatasi Konsumsi Alkohol

Meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah moderat bisa memberikan manfaat bagi kesehatan jantung, konsumsi alkohol berlebihan justru meningkatkan risiko penyakit jantung. Minuman keras dapat meningkatkan tekanan darah, kadar lemak darah, dan merusak hati serta sistem kardiovaskular secara keseluruhan.

Jika Anda memilih untuk mengonsumsi alkohol, lakukan dengan bijak. Batasi jumlahnya agar tetap dalam kadar yang aman, yaitu tidak lebih dari satu gelas per hari untuk wanita dan dua gelas per hari untuk pria.

7. Rutin Memeriksakan Kesehatan

Kebiasaan sehat yang satu ini sering kali diabaikan, padahal pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting untuk mendeteksi masalah sejak dini. Mengetahui kadar kolesterol, tekanan darah, serta gula darah secara teratur bisa membantu Anda mengenali potensi masalah pada jantung lebih awal.

Apabila Anda memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes, pemeriksaan lebih sering sangat disarankan. Diskusikan dengan dokter untuk menentukan jadwal pemeriksaan yang tepat sesuai kondisi tubuh Anda.

Dengan menerapkan kebiasaan sehat di atas, Anda tidak hanya menjaga jantung tetap sehat, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Mulailah dari langkah kecil, dan secara bertahap, kebiasaan sehat ini akan menjadi bagian dari gaya hidup Anda

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén