Demam pada anak memang sering membuat orang tua cemas. Rasanya ingin segera mencari dokter, padahal tidak semua kondisi harus ditangani dengan obat-obatan atau tindakan medis cepat. Sebenarnya, demam adalah reaksi alami tubuh ketika sistem imun bekerja melawan infeksi. Karena itu, memahami cara menangani demam anak dengan tenang sangat penting agar kita bisa memberikan pertolongan yang tepat.
Kenali Penyebab Demam Anak
Sebelum buru-buru panik, sebaiknya kita mengenali dulu apa yang menyebabkan demam. Beberapa penyebab umum antara lain:
-
Infeksi virus seperti flu atau batuk pilek.
-
Infeksi bakteri yang bisa menimbulkan gejala tambahan.
-
Tumbuh gigi pada bayi dan balita.
-
Keletihan atau kurang istirahat.
-
Reaksi pasca imunisasi.
Dengan mengetahui penyebabnya, kita jadi lebih tenang dalam mengambil langkah. Inilah awal yang baik dalam cara menangani demam anak tanpa kepanikan.
Pantau Suhu Tubuh Anak dengan Benar
Salah satu langkah sederhana adalah selalu sedia termometer di rumah. Suhu normal anak berada di kisaran 36,5–37,5°C. Jika angka di atas 38°C, barulah dikatakan demam. Jangan hanya mengandalkan rabaan tangan, karena sering kali tidak akurat. Dengan memantau suhu tubuh, kita bisa tahu kapan perlu tindakan lebih lanjut.
Berikan Cukup Cairan
Saat anak demam, tubuhnya cenderung kehilangan cairan lebih banyak melalui keringat. Karena itu, pastikan ia minum cukup air putih, susu, atau kuah sup hangat. Cairan tidak hanya membantu menurunkan suhu tubuh, tetapi juga mencegah dehidrasi. Bahkan, ini menjadi salah satu tips alami cara menangani demam anak yang aman dan mudah dilakukan di rumah.
Istirahat yang Cukup
Tubuh anak butuh energi untuk melawan infeksi, jadi istirahat adalah kunci. Hindari aktivitas terlalu berat, meskipun anak terlihat masih aktif. Biarkan ia tidur lebih lama atau sekadar berbaring santai. Dengan begitu, sistem kekebalan tubuh bisa bekerja lebih maksimal dalam proses penyembuhan.
Kompres dengan Air Hangat
Banyak orang tua masih salah kaprah dengan mengompres anak menggunakan air dingin atau es batu. Padahal, cara tersebut bisa membuat tubuh menggigil dan memperburuk kondisi. Kompres air hangat pada lipatan ketiak atau dahi jauh lebih aman untuk membantu menurunkan suhu. Inilah salah satu cara alami menangani demam anak tanpa obat-obatan berlebihan.
Pilih Pakaian yang Nyaman
Jangan pakaikan anak dengan baju tebal atau selimut berlapis-lapis saat demam. Justru hal ini bisa membuat panas tubuh terperangkap dan memperburuk keadaan. Gunakan pakaian longgar, berbahan katun, dan biarkan sirkulasi udara lancar. Meski terlihat sepele, ini bagian penting dalam cara menangani demam anak di rumah.
Baca Juga: 5 Penyebab Kebotakan Dini dan Cara Mengatasinya
Perhatikan Pola Makan
Walau nafsu makan menurun, anak tetap perlu asupan bergizi. Pilih makanan yang mudah dicerna seperti bubur, sup ayam, buah segar, atau smoothie. Nutrisi dari makanan bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga proses pemulihan lebih cepat.
Jangan Terburu-Buru Memberi Obat
Kadang orang tua langsung memberikan obat penurun panas ketika suhu naik sedikit. Padahal, tidak semua demam butuh obat. Jika anak masih terlihat aktif, mau minum, dan tidak rewel berlebihan, biasanya cukup ditangani dengan perawatan sederhana di rumah. Obat hanya diperlukan bila suhu sudah mencapai 38,5°C ke atas atau sesuai anjuran dokter.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meski sebagian besar demam bisa ditangani di rumah, ada kondisi yang tidak boleh diabaikan. Segera bawa anak ke dokter bila:
-
Demam tidak turun lebih dari 3 hari.
-
Suhu tubuh sangat tinggi hingga 40°C.
-
Anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum sama sekali.
-
Disertai gejala lain seperti kejang, sesak napas, atau ruam menyebar di kulit.
Langkah ini penting agar orang tua tahu batas kemampuan perawatan di rumah dan kapan butuh bantuan medis.
Pada akhirnya, cara menangani demam anak yang paling penting adalah tetap tenang. Panik hanya akan membuat keputusan jadi terburu-buru. Dengan memahami langkah sederhana seperti memantau suhu, menjaga hidrasi, memberikan istirahat, hingga memperhatikan tanda bahaya, orang tua bisa lebih percaya diri menghadapi situasi ini.